Bedar Sukma Bisu- Faisal Tehrani

Bedar itu maknanya perahu besar. Sukma bermaksud jiwa dan bisu beerti lidah yang kelu tidak dapat berkata-kata. Novel ini telah memenangi tempat pertama dalam Sayembara Mengarang Sempena Perayaan Jubli Emas DBP tahun 2006. Jika kita mengimbau nostalgia lampau, sejarah silam, di tanah sendiri ini, kan terdapat satu daerah yang dulunya telah mahsyur dan makmur di persisiran selat yang terkenal. Orang memanggilnya ‘Suvarnabhumi’ atau ‘Semenanjung Emas’ yang lautannya perak gemilau, tanahnya emas bercahaya, hutannya subur menggoda. Naskah ini ternyata satu naskah yang padat dan padu, manis dan madu. Dalam kesungguhan untuk kita percaya, selain lautan itu menyimpan misteri ternyata masih punya berjuta rahmat untuk disyukuri, baik di permukaan atau di dasar. Itulah ilham yang memancang Bedar Sukma Bisu. Lautan menjadi sebuah ceritera dipesan melalui rahsia perahu.

Ternyata kepengarangan Faisal Tehrani membawa kita ke alam pembacaan yang baru. Ia membelit kita dengan lembut oleh plot penceritaan yang sengaja tidak distruktur. Elemen-elemen cinta, sejarah, alam lautan, dunia dagang, keintelektualan dan puzzle fakta-fiksi adalah gabungan berangkai-rangkai tetapi sungguh menghurai. Sebagai contoh jika di dalam sebuah rumah itu ada beberapa tingkap, kita akan membuka tingkap pertama dengan cinta Wefada kepada Elemine, tingkap kedua mempertontonkan hubungan kasih sayang antara Tengku Fatimah dan Ben Qortubi dan tingkap ketiga kita akan melihat kenangan mesra Wefada dengan Chen. Walaupun kisahnya terpisah di dalam naskah tetapi ia bercantum ranum di dalam memori. Di sebalik itu, menggunakan falfasah lautan elemen-elemen itu menjadi tema  bagaikan gelombang kecil atau besar yang menggugah; laut dan pantai.

Sebenarnya Bedar Sukma Bisu bukanlah naskah yang kaya dengan cinta sahaja, di sisi yang lebih besar ia terpencar membawa sinar idealisme yang telah dikaji-pahami dengan fakta dan sejarah kegemilangan masa lepas. Sejarah Melaka tentunya. Atau di sisi yang lain ia juga membawa penghayatan seni ke dalam penulisan seperti kemahiran pertukangan kapal Melayu atau kebijaksanaan dan kreativi pedagang tempatan yang lamanya tidak subur.

Seorang penulis akan menulis untuk membawa pemikirannya ke dalam buku, dan menyalurkan kepada pembaca melalui pembacaan. Jika penulis-penulis lama seperti Shanon Ahmad, Anwar Ridhwan, A. Samad Said, Rahim Kajai, Pak Sako atau Keris Mas membawa lebih banyak pengalaman ke dalam penulisan mereka, penulis generasi baru seperti Nisah Haron, Rebecca Ilham, Salina Ibrahim atau Faisal Tehrani sendiri telah belajar untuk memakmurkan karya mereka melalui adunan pengalaman dan fakta. Jika kita membaca karya A. Samad Said begitu mengesankan, Faisal Tehrani melalui gurunya itu lebih membekas malah mengajar kita membaca sebagai seorang cendekia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: