Antologi Puisi- Tajam Fatamorgana

Membaca puisi adalah satu perkara yang mudah, malah baris-baris katanya dengan senang dapat dihabisi sebegitu segera. Begitulah ketikanya saya membaca Tajam Fatamorgana, sebuah buku antologi puisi karya Roslan Shariff.

Seperti yang diperkatakan oleh pengenalan buku ini di muka belakangnya, “Tajam Fatamorgana merupakan titipan jiwa dan perasaan Roslan Shariff. Bait-bait puisi yang indah dan bernada melankolik mampu meruntun perasaan pembaca. Karya sulong penulis ini mengenetengahkan pelbagai tema yang merangkumi isu-isu semasa, ketuhanan dan kekeluargaan. Puisi-puisi nan syahdu digarap menjadi antologi terindah khas buat pembaca”.

Jujur, membaca puisi itu adalah perkara yang sangat ringkas jika baris-baris katanya hanya sekadar meniti bibir. Membaca puisi atau sajak dengan sedemikian rupa hanyalah tidak akan membawa apa-apa makna ibarat angin lalu. Menyapa tubuh sebentar kemudian pergi. Namun begitu, jika ada sebaris puisi, kemudian kita bedah setiap kata-katanya, maka tersuratlah apa yang selama ini terhijab di dalam puisi seorang penyair. Begitulah apa yang saya ketemukan di dalam sajak-sajak Shariff Roslan.

Pembukaannya sahaja sudah begitu indah, Tajamnya Fatamorgana di dalam rangkap, Aku pasti/ walaupun alamku lain/ bumi kita tetap sama/ Tuhan kita hanyalah Dia, mengajak kita kembali sebagai hamba tuhan dan Agamnya Cinta Ini (Maulidur Rasul SAW) pada baris, Begitu wajah siang ini/ gagah bersama tebar senyum/ diiringi melodi/ marhaban/ selawat/ hadrah/ untuk mu kekasih, mengingatkan cinta kita sebagai pengikut Muhammad yang setia dan jujur.

Seterusnya di dalam sajak Alur Rasa (Penyair Kerdil), Angin Puisi, Gerimis Puisi dan Impian Penyair melontarkan bait-bait radif jiwa penyair yang merendah diri dalam keghairahannya untuk berkarya. Puisilah yang dapat menenangkan jiwa seorang penyair atau menyampaikan rasa seorang penyajak samada ketika sedang kecewa, gembira, geram ataupun marah dengan bahasa yang puitis.

Tajam Fatamorgana kemudian membawa kita menyelusur kepada persoalan insan dan ketuhanan. Sajak-sajak seperti ini akan banyak kita temukan seperti di dalam Kekasih dan Pencinta Berkongsi Malam, Kalimah di Suatu Malam, Bila Naluri Bertanya, Hati dan Qadar Ilahi dan beberapa tajuk lainnya. Sajak-sajak seperti ini banyak sekali meruntunkan jiwa, membacanya dengan berhati-hati akan menimbulkan seribu satu persoalan di dalam sukma. Dosa dan pahala, cinta kita kepada tuhan, pengampunan dari tuhan dan pengharapan tentang rahmat dan nikmat. Namun ia tidak akan sekali-kali memberikan jawapan. Jawapan tentangnya hanya ada di dalam diri kita sendiri. Begitulah  Roslan Shariff mengesankan seperti yang dinukilnya dalam sebuah puisi Di Ruang Kosong (Munajat), berbunyi Ruang kosong/ ruang sepi/ munajat berdiri/ sepi diri ditelan terus sepi/ dan kita semakin menghampiri.

Bila kita berbicara tentang jiwa penyair mungkin radif yang dinukilkan oleh penyajak ulung T. Alias Talib ini lebih ringan untuk kita fahamkan.

Licentia Poetica
(sajak T. Alias Taib)

penyair itu memasuki hutan kata
menyusuri diksi demi diksi
dari puisi ke puisi
sepanjang kembara itu dia memikul
akalnya, imaginasinya dan peribadinya.
di hutan tebal yang dirimbuni kata,
dia melepaskan akalnya
merangkak di atas akar imaginasi
mengumpul makna dan rentak.
di hutan tebal-gelap itu,
kata-kata berguguran di dalam dirinya
kata-kata dari pohon peribadinya.

penyair itu memasuki kamus hidup
mencari makna demi makna
dari lembaran perisitiwa yang dilaluinya.
di dalam kamus itu tiada kata-kata
yang menghalang perburuannya
atau memperkecilkan penemuannya.
pada lembaran tebal kamus hidupnya,
dia melanggar sempadan
yang membataskan kebiasaan
bertutur, berbahasa dan berfikir;
dia melonggarkan gari
yang mengikat kebebasan.

penyair itu memasuki hutan kata
dengan lesen di tangannya

(Sumber: Di sini)

Buku antologi puisi ini cumalah setebal 75 halaman, namun jika dicernakan setiap puisinya, atau dihadamkan setiap baris katanya, puisi-puisi ini akan membuat kita berfikir dan bermenung. Membaca puisi dan sajak haruslah cermat dan hemat. Seorang penyair akan selalu mengajak pembacanya berfikir untuk menangkap sesuatu yang tersirat dan menyelam ke dalam metafora tulisannya. Begitulah menghirisnya Tajam Fatamorgana.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: