Bumi Cinta- Habbiburrahman El-sherazy

Bumi Cinta
Habiburrahman El-Shirazy
Ar-Risalah Produk Sdn. Bhd.

Sudah dimaklumi karya-karya penulis Habiburrahman El-Shirazy sememangnya kaya dengan tema-tema cinta. Falsafah cintanya agung mendambakan, kadang-kadang mudah dihadam dan kadang-kadang boleh jadi berat untuk ditafsir faham. Bumi Cinta, karya penulis yang lebih akrab digelar Kang Abib ini sekali lagi membawa tema cinta berlatarkan negara Rusia.

Dengan pena ikhlas untuk membawa kebenaran, tintanya jatuh melukiskan askara-askara tentang kecantikan Rusia. Rusia adalah negara yang bebas sebebasnya, dari rumpun yang zahir sehingga pucuk rohaninya adalah demokrasi tanpa batasan. Kebebasan yang mutlak!

Maka di bumi Rusia ketika musim salju, sewaktu bintik-bintik putih turun terapung-apung dari langit dan jatuh perlahan-lahan di tanah sebuah negara empat musim, seorang watak pengembara muslim menjejakkan kakinya ke sana demi mencari ilmu, menggali sejarah Stalin dan Lenin. Yang lebih dalam mahu mengkaji kehidupan Islam dalam komuniti masyarakatnya sewaktu zaman kekangan menyebarkan dan mendaulatkan agama. Muhammad Ayyas, pemuda nusantara Indonesia adalah watak yang penuh ilmiah digambarkan secara padat. Kerendahan budi, ketinggian ilmu dan ketegasan iman diaduk dengan sebati dalam jiwa Ayyas. Bagaikan bermimpi mahu jadi sepertinya.

Namun, ketibaan Ayyas ke Rusia sebenarnya lebih dicengkam kebimbangan. Dalam benak hatinya masih memikirkan apakah Islam dalam dirinya dapat berteguh tegak andai digoda ujian? Di sinilah di suatu tempat yang menghalalkan apa yang telah diharamkan oleh Tuhan, kitab, alam akhirat dan agama pasti! Ayyas gugup, pesona pertama yang terpupuk di matanya adalah kecantikan gadis-gadis Rusia.

Yelena dan Anastasia Palazzo adalah seperti ketua bidadari yang selalu berlegar-legar dalam ruang mata Ayyas. Kecantikan yang sememangnya terserlah sering menggugah akal dan fikiran. “Ia seperti virus komputer yang tidak mudah dihilangkan”.

Namun begitu Ayyas bukan pemuda yang cepat menghadamkan kejelitaan perempuan pada nafsunya, gelora itu dikawalnya dengan sebaik mungkin. Pesan gurunya selalu dijadikan azimat untuk menghilangkan wajah-wajah jelita Yelena dan Anastasia Palazo.

“Eling-elingo yo Ngger, endahe wanojo iku sing dadijalaran batale toponingporo santri Ian satrio agung”

“Ingatlah nak, kecantikan wanita itu sering menjadi sebab para penuntut dan satria agung gagal dalam pertapaannya.”

Di situlah Ayyas menemukan pasak kekuatannya.

Dalam kompas waktu yang sama, konflik yang dihadapi Ayyas berkembang menjadi lebih mencabar. Lebih dari kulit putih gebu dan mulus Yelena, lebih dari senyum manis yang ranum dilemparkan Anastasia. Di depannya terhidang dengan bermacam-macam manusia yang berbeza pegangan agama.

Yang runcing seperti Yelena yang mendustakan tuhan ataupun seperti Anastasia yang sudah tertanam dalam jiwanya ketaatan pada Agama Katolik. Tanpa sedar, Ayyas juga sedang memekarkan bunga dakwah Islam dalam dirinya. Pegangnya teguh pada ayat-ayat Tuhan,

“Bagiku adalah agama ku, dan bagi kamu adalah agama kamu”

Biarpun sikap tolerannya selalu menjadi dinding hormat pada yang lain, hakikat yang dihadapi Ayyas ternyata kontra. Ayyas selalu dikritik dan diuji tentang ‘tali’ yang sedang dipegangnya. Namun, seperti yang telah digambarkan dalam perenggan pertama tadi, Ayyas menjawab semua ‘serangan’ dengan hikmah dan bijaksana. Falsafah dan sejarah selalu bergabung menjadi dalilnya yang konkrit dan logik dalam membentangkan asas pegangannya kepada manusia yang tidak percaya pada kata-kata Tuhan.

“Keretapi selalu berjalan membawa seribu satu kisah kehidupan para penumpangnya. Ada yang bahagia, ada yang berduka. Ada yang dadanya dipenuhi keyakinan, dan ada yang berisi kebimbangan. Keretapi terus berjalan tanpa peduli dengan apa yang sedang terjadi dalam para jiwa para penumpangnya. Keretapi itu hanya menghantarkan mereka sehingga sampai ke stesen tujuan mereka. Perjalanan seterusnya penumpanglah yang memutuskan.”

Halaman 632, Bumi Cinta, Habiburrahman El Shirazy.

Buah tangan Kang Abib kali ini membuka dimensi yang lebih mendebarkan. Plot-plot ceritanya menggabungkan pelbagai persoalan-persoalan tentang agama langit yang ada turun ke bumi. Namun, Islam lah tetap yang terbaik bagi kita.

Molek Garden

Sept 9, 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: