Pengemis

Baru Kalam hendak menolak pintu kaca ofis. Tiba-tiba ada suara yang datang dari arah belakang.

“Lam, nak hisap rokok eh? Jom” Zambri menegur dari tempat duduknya. Zambri bangun dan membuntuti Kalam. Mereka menuju tangga untuk ke tandas di tingkat dua. Perjalanan yang kejap dan masing-masing senyap. Kalam menolak pintu tandas, sementara Zambri masih mengekor di belakang.

Zambri mengeluarkan sebatang Nusantara dari kotak yang berwarna merah putih. Kemudian Zambri goncang-goncangkan kotak yang berwarna merah putih itu. Bunyi dalam kotak menyatakan yang ia masih berisi. Lalu kotak merah putih itu Zambri simpan kembali dalam poket sisi kiri. Kalam pula dengan Winston Light. Kotak biru putih.

“Zam, lighter?” pinta Kalam.

Zambri menyalakan api pada rokok yang melekat di hujung bibir Kalam. Rokok dinyalakan dan Kalam lepaskan hembusan pertama.

“Thank you” Kalam mengucapkan terima kasih dengan senyuman.

Kalam dan Zambri masing-masing berkhayal sendiri. Hembusan asap rokok memenuhi ruang tandas yang kecil. 2 minit berlalu. Zambri mengubah posisi berdiri tegak kepada duduk mencangkung. Badannya disandarkan ke dinding. Kepalanya juga. Kalam masih berdiri. Dia menghembus-hembus asap dengan mulut yang terlopong. Asap berbentuk bulat keluar pekat di hujung mulut. Kalam tersengih-sengih. Dalam lima hanya satu yang jadi.

Bara di rokok Kalam sudah sampai ke hujung. Kalam menoleh ke Zambri. Dilihatnya rokok Zambri masih suku berbaki.
Hisap rokok cengkih memang lambat habis. Tekak pun perit. Begitu Kalam berdesir dalam hati.

Kalam menapak kecil ke depan sinki. Kepala paip dibukanya perlahan-lahan. Dia matikan putung yang berbara di aliran air sinki. Tiba-tiba mata Kalam terpandang syiling dua puluh sen di atas tebing sinki. Kalam menoleh ke Zambri yang masih duduk tercangkung. Kali ini kepalanya sudah tenggelam antara dua lututnya sendiri.  Seolah-olah Zambri sedang memikirkan masalah yang berat tak tertanggung.

Rokoknya Zambri masih berbaki.

Hisap rokok cengkih memang lambat habis. Tapi puas dan nikmat. Begitu Zambri berdesir dalam hati. Kalam mengambil syiling dua puluh sen tadi. Tepat Kalam melintas depan Zambri, Kalam campakkan syiling itu. Ia pun meleret-leret dan berpusing-pusing lalu jatuh berdeting di depan mata Zambri. Zambri tersentak lewat. Dia lihat syiling dua puluh sen yang telah jatuh berdeting.

“Celaka Kalam” suara Zambri antara dengar dan tidak. Zambri segera menoleh pantas, namun pintu tandas baru sahaja tertutup kemas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: