Daun culang

Satu minggu yang lepas, tujuh helai dedaunan telah pun luruh. Sekarang menjadi kering, bersepah di tanah lapang, layu dan terbuang. Tujuh helai daun itu gugur dengan amarah, sakit hati dan walang. Angin yang meniupinya sehingga jatuh memang bukan calang-calang. Angin itu datang dari tanah yang hampir gering sehingga kita di semenanjung ini terasa parah dan luka. Baru anginnya, bukan kehidupan sebenar yang di rasakan dari sana. Selama tujuh hari, sehelai demi sehelai gugur dengan segala macam rasa. Daun pertama yang gugur mengejutkan kita yang selama ini selesa berjuntai di ranting utuh. Kononnya ranting ini yang paling kuat untuk kita berpaut. Tapi gugur jua akhirnya.

Sejak dari itu, kita bangun sekejap, enam helai daun yang lepas, gugur dengan dengan semangat dan iktikad. Membangkitkan rasa ijtihad yang selama ini lena di akar hati.

Itu hanyalah gambaran untuk tujuh helai, hakikatnya dalam sepohon, daunnya tidak terkira. Selagi pohon tidak mati, ia masih mampu meranting pucuk baru, dengan daun penuh kehijauan. Malah boleh juga menerbitkan bunga.

Untuk tiga puluh helaian daun berikutnya, akan gugur mengikut cuaca. Daun-daun ini telah di’sentisis’ untuk gering tiga puluh hari. Ia akan gering di hujung ranting, dan hanya boleh gugur selepas tiga puluh hari berikutnya.  Semangatnya bertukar menjadi sorak dan ketawa riang gembira. Iktikadnya kini betaruh untuk melihat menang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: