Jangan Rakus, Tapi Perlahan-lahan

Kita susuri sungai fikir sebentar, untuk kita dalami sejauh mana arus sensitif kendiri. Adakah arus sensitif kita sangat tenang permai seperti sebuah tasik atau danau, yang bekocak sedikit dalam seluas besarnya. Itu pun jika ada ikan besar yang sengaja menguji di permukaan.

Atau arus sensitif kita seperti arus sungai yang lasak. Tercabar oleh tebing yang utuh, lalu kita memercik tinggi, tanda rasa tercabar; angkuh  atau menghantar amaran-pantang dicabar.

Kalau menyusur tenang, kita juga akan turut damai. Tidak perlu berggolak tanpa asbab yang tidak jelas. Jauhkanlah dari keliru. Malah tidak mahu berselisih dengannya di simpang fakta. Takut-takut kita akan lari ke jalan yang bersimpang siur. Dan waktu itu, kesesatan adalah paling nyata sebelum berpeluh, mengeluh dan meringkuh untuk kembali pulang ke pangkal jalan.

Jika jelas kita yang galak, arus sensitif kita ibarat ombak, setenang-tenang masih beralun, pantang ada angin, memang tidak pernah tenteram diam. Itu belum lagi terduga. Sejarahnya, manusia juga pernah karam dengan arus peka yang begitu. Jangan dipandang enteng.

Dan ceritanya bermula disini.

Ia itu ialah unggas kecil yang selalu menganggu kenyamanan tidur malam kita. Kadang-kadang mimpi indah kita; sedang bersantai di taman kenyamanan juga acapkali terputus kerananya.

Kita ialah gergasi bagi mereka. Mereka cuma parasit bagi kita. Sekadar hinggap di tubuh, menyucuk dengan jarum halus yang penuh cermat, menghisap buas. Setelah kenyang, berlalulah ia pergi, hilang di kepekatan malam. Kita ditinggalkan dengan gatal sakit. Atau parahnya pabila ada virus kotor yang disumbat juga ke dalam tubuh. Nyata ia yang kecil bukan calang-calang. Kalau salah disuntik jarumnya, boleh juga mengundang celaka.

Suatu hari yang indah dengan bulan di awan yang terang,ia mati dengan tragis, kerana tidak sempat melarikan diri. Walaupun sebenarnya perutnya sudah melabuh gendut menyedut nikmat manis cecair merah. Tapi nafusnya terus berpohon segar, akarnya mencengkam pundak kewarasan, manis yang ini bukan kebiasaan baginya. Selalunya ia mampu berfikir dengan adil dan saksama walau waktu sedang ber’candu’. Kali ini ia tewas, matinya lumat ngeri. Terputus anggota, berkecai sana sini.

Ia pengalaman yang selalu diceritakan oleh nota-nota sejarah, sepandai-pandai tupai melompat, akhirnya jatuh ke tanah juga. Maka itu, gelora ke’tamak’an mesti tahu disukat. Tidak salah mencedok peluang, tetapi jangan sampai merampas dan mencantas sebagai dalang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: